Student Center Itenas, Euy

“Student Center" Bukan Lagi Tempelan



Oleh: Jamal

Salah satu kelengkapan sebuah kampus adalah ”student center”. Nama ini
sepertinya belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia bagi pusat kegiatan
ekstrakurikuler mahasiswa di kampus yang ditampung dalam wadah generik 
bernama unit kegiatan mahasiswa.

Di kampus dengan lahan minim dan dengan pandangan bahwa kegiatan
ekstrakurikuler sekadar mengisi waktu luang di luar jadwal kuliah, ruang 
untuk unit kegiatan mahasiswa sering menggunakan lahan atau ruang 
yang tampak sekadar memanfaatkan ruang atau lahan ”sisa” yang terserak 
di suatu kompleks kampus.

Ruang itu tanpa fasilitas ruang lain sebagai penunjang dan dengan model
bangunan kios, bahkan lebih parah lagi seperti ”gubuk derita”. Meskipun
demikian, lihatlah, kegiatan mahasiswa yang beragam, mulai dari olahraga 
termasuk bermacam jenis bela diri, keagamaan, paduan suara, berbagai 
kesenian daerah lengkap dengan alat musik tradisional masing-masing, 
sampai kegiatan pencinta alam dan olahraga ekstrem.

Dengan sempitnya lahan yang banyak dialami kampus perguruan tinggi swasta, 
pendekatan yang realistis adalah membangun student center yang kompak.
Caranya, memusatkan seluruh UKM yang ada dan menggabungkannya 
dengan kebutuhan lain di atas lahan yang sama. Contohnya antara lain, 
menggabungkan student center dengan tempat parkir sepeda motor 
mahasiswa atau ruang lain sebagai fasilitas kegiatan kemahasiswaan 
seperti ruang rapat dan seminar.

Pemusatan
Cara demikian telah ditempuh kampus di Bandung, yaitu Institut Teknologi Nasional 
(Itenas). Mengingat banyaknya UKM yang semuanya harus diberi ruang 
sementara lahan terbatas, kampus ini membangun student center 
bertingkat tiga. Bagian bawah bangunan mengambil model rumah panggung 
yang diambil dari khazanah budaya hunian di negeri ini, sehingga tersedia 
ruang terbuka di lantai dasar untuk tempat parkir sepeda motor mahasiswa.

Pemusatan dipandang perlu guna kemudahan sosialisasi dan kerja sama
antar-UKM selain untuk kemudahan koordinasi dengan pembina kemahasiswaan.

Student center bernama Loka Abikawidya—artinya tempat untuk berkumpul
mahasiswa—ini dibangun dengan menggabungkan tiga kebutuhan ruang yaitu
ruang yang mewadahi masing-masing UKM, fasilitas penunjang dan ruang
parkir sepeda motor mahasiswa. Gedung didesain dengan menggabungkan 
bentuk lengkung dan silinder.

Bagian gedung berbentuk melengkung untuk ”markas” UKM. Pada bagian
silinder yang dengan sendirinya menciptakan hall berbentuk bulat (rotunda) 
juga terdapat ruang seminar, olahraga dalam-ruangan, kantin yang dikelola 
koperasi mahasiswa, dan kantor Biro Kemahasiswaan & Alumni (BKA). 
Dengan bergabungnya BKA di gedung yang sama dengan tempat mahasiswa 
bermarkas, koordinasi pelaksanaan kegiatan menjadi lebih cepat dan mudah.

Di pertemuan lengkung dan silinder terdapat ruang rapat mahasiswa,
mushala, gudang, kamar kecil, serta tangga. Kehadiran gedung Loka 
Abikawidya di Kampus Itenas seluas lima hektar ini tampak sangat menonjol 
dan paling megah, mengingat umumnya bentuk gedung
perkuliahan berbentuk kotak empat persegi panjang dengan 
dinding dari batako tanpa plester.

Bentuk atap dari bahan galvalum yang dibuat melengkung mengikuti
ketinggian bangunan, tampak berbeda dari atap asbes gedung lainnya yang
menggunakan model pelana.

Untuk mewadahi kegiatan UKM yang memerlukan ruang terbuka dan panggung, 
di depan student center disediakan plaza yang pada hari biasa dipakai tempat 
parkir motor bila di bagian bawah gedung telah penuh.

Plaza ini dilengkapi panggung permanen dari tembok untuk tempat kegiatan
pertunjukan musik atau kegiatan lain. Ini adalah upaya memberi ruang 
berkegiatan yang sepenuhnya dikelola mahasiswa di tengah rutinitas 
perkuliahan. Untuk kemajuan mahasiswa di berbagai bidang yang tidak 
diajarkan di bangku kuliah, kehadiran student center yang lebih baik 
di masing-masing kampus sebaiknya bukan lagi sekadar bangunan tempelan.






dimuat KOMPAS Minggu rubrik Desain 14 Agustus 2005

 
Like